Kisah anak cangkul dan bangku kuliah

         

  Aku agak masih bingung mulai dari mana aku mulai awali kisah ceritaku. Aku akan awali dari perkenalan nama dan lain lain saja dulu ya. Aku dilahirkan didesa yang tidak jauh dari perkotaan sekitar ya perjalanan cuman 30 menitan sampai. Tepatnya di desa Pecuk namun bertempat tinggal di desa sanan tetanggaan dengan desa kelahiranku. Yang berada di kecamatan Pakel kabupaten Tulungagung provinsi Jawa timur negara Indonesia Benua Asia.
          Aku dilahirkan sebagai anak yang ketiga dari keluarga yang sederhana mendekati kaya. Ayahku bernama Mustofa yang ceritanya sebelum dinamai Mustofa namanya Hadi mustofa itupun waktu masih menimba ilmu di Pondok Pesantren yang biasa disebut istilah nyantri atau mondok  (jawa) yang ada di jawa timur bagian hampir paling timur yaitu tepatnya di daerah kabupaten Jember. Yang katanya di daerah sana yang terkenal bahasanya bercampur dengan bahasa madura. Karena juga banyak orang madura yang disana. Kata ayahku jika bercakap cakap dengannya jangan sampai perkataan kita lebih keras karena dapat menimbulkan hal hal yang tidak di inginkan.
         Adapun nama ayahku sebelum nyantri biasa dipanggil namanya pak mujiran. Jadi teman temannya pada waktu kecilnya ketika sekarang bertemu manggilnya ya nama sebelum mondok. Yang sangat membuatku masih ingat sampai sekarang dan tidak akan pernah aku lupa ayah pernah berkata kepadaku yaitu sing mempeng (istilah jawa) yang terjemahan indonesianya adalah yang tekun atau rajin. Dan ketika waktu saya mau pingin kuliah namun pada waktu itu masih terkendala masalah biasa yang dialami orang orang yang katanya biaya di sekolah tingkat perkuliahan itu sangat mahal. Ayah berkata kepadaku:"kuliah kui opo enek kasepe". Kalau diterjemahkan artinya kuliah itu apa ada terlambatnya. Dan saya diam tidak menjawab dengan kata kata hanya mengangguk iya meskipun dalam hati pada waktu itu. 
         Ayahku bekerja sebagai petani sama ibuku juga. Biasa kalau ditanya orang apa pekerjannya ayahku menjawab tukang macul ( istilah jawa ) yaitu orang yang mencangkul dengan cangkul ( alat yang dipakai untuk mencangkul). 
Setelah selang hampir satu tahun aku akhirnya bisa mendaftar kuliah di perkuliahan yang ada di kota Tulungagung. Awal mulanya saya mendapatkan informasi dari kepala desa bahwasanya ada banyak beasiswa kuliah yang salah satunya yaitu beasiswa SKSS (satu keluarga satu sarjana) program dari BAZNAS kabupaten tulungagung. Akhirnya saya menanyakan tentang hal beasiswa tersebut. Sebenarnya saya ragu-ragu karena ada yang informasi cerita sudah banyak yang mendaftar. Akantetapi, ada salah satu dari pihak desa berkata daftar dulu siapa tahu kalau itu menjadi jalan rizqinya untuk kuliah.     
           Akhirnya saya mendaftar dan mengikuti tes meskipun berangkatnya terlambat dari jadwal tes. Waktu di tes saya bukannya menjawab dengan benar dan jelas bahka saya menjawab dengan kurang jelas karena merasa grogi. Karena juga saya jarang atau bahkan belum pernah berbicara seperti di review seperti orang magang pekerjaan.
        Akhirnya saya diterima untuk mendapatkan Beasiswa tersebut. Saya senang dan seperti yang dikatakan ayah saya tidak ada terlambatnya untuk kuliah. Dan sekarang saya sudah hampir wisuda masih setengah perjalanan di bangku perkuliahan.
       Nah, itu sekelumit cerita perjalanan kisahku ini yaitu cerita anak desa, kisah anak cangkul dan bangku kuliah, lewat tulisan ini, saya berharap semoga yang belum bisa sekolah maupun kuliah. Jangan khawatir dan jangan susah karena suatu saat ada jalannya untuk bisa.
     Dari awal sampai akhir cerita saya yang belum tahu nama saya karena juga belum mengenalkan nama dari awal cerita, perkenalkan nama saya Sobirin salah satu beasiswa SKSS BAZNAS kabupaten Tulungagung.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Imajinasi

Mengapa butuh motivasi